Berapakah Seharusnya Ibu Hamil Mengalami Kenaikan Berat Badan?

Pemeriksaan kehamilan sangat penting dan dapat dikatakan wajib dilakukan bagi wanita yang dinyatakan positif hamil. Alasannya, pemeriksaan kehamilan dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan kehamilan itu sendiri, tingkat kesehatan kandungan, kondisi janin dan bahkan penyakit atau kelainan.

 

Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan konsisten sebanyak 7-11 kunjungan selama kehamilan. Ketentuan tersebut dituliskan oleh Obstetric Evidence Based Guidelines tahun 2007, sedangkan ketentuan WHO menyatakan bahwa kunjungan kehamilan minimal 4 kali.

 

Kunjungan kehamilan berjumlah 4 kali dimaksudkan agar ibu hamil setidaknya memeriksakan diri 1 kali pada trimester pertama, 1 kali di trimester ke-2 dan 2 kali kunjungan di trimester ke-3. Rekomendasi WHO ini diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Namun kenyataan masih ada ibu hamil yang tidak pernah memeriksakan diri selama kehamilannya.

 

Masa kehamilan pada umumnya dapat membuat beberapa perubahan pada wanita, diantaranya adalah peningkatan berat badan. Perubahan berat badan wanita pada masa kehamilan harus terus dipantau agar tidak berdampak patologis, seperti terjadinya bayi makrosomia.

 

Demikian juga sebaliknya, perubahan berat badan wanita hamil yang tidak signifikan atau tidak mengalami perubahan yang berarti juga dapat menyebabkan dampak negatif bagi pertumbuhan janin di dalam rahim.

 

Perubahan Berat Badan pada Masa Kehamilan

Berat badan ideal calon ibu saat akan mulai hamil, yaitu antara 45-65 kg. Wanita yang berat badannya kurang dari 45 kg sebaiknya dinaikkan dulu sampai 45 kg sebelum hamil. Demikian juga dengan wanita yang berat badannya lebih dari 65 kg sebaiknya berat badannya diturunkan dulu sampai 65 kg sebelum hamil.

Penambahan berat badan ibu hamil juga dapat dihitung dari Body Mass Index (BMI). Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) dapat digunakan untuk menentukan BMI dalam kg/m2 yang dilakukan pada saat awal kehamilan. Hasil penghitungan BMI dapat dipakai untuk menentukan kategori berat seorang wanita.

Wanita dengan obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes, distosia bahu, dan SC, bayi yang dilahirkannya juga dapat mengalami peningkatan berat badan sehingga potensial menjadi makrosomia. Wanita yang sangat kurus dengan berat badan < 50 kg meningkatkan risiko bayi berat lahir rendah.

Kenaikan optimal berat badan wanita hamil adalah 11-16 kg dengan berat dan tinggi badan rata-rata. Ibu hamil sebaiknya mengupayakan diri untuk mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi setiap hari dan sebaiknya menghindari pantang makanan karena setiap kalori sangat berarti bagi pertumbuhan janin.

Penambahan berat badan ibu hamil sebaiknya disesuaikan dengan BMI, seperti pada tabel di bawah ini.

 

Berat Badan yang dianjurkan pada masa kehamilan

Profil

Pertambahan berat badan

Berat badan normal (BMI: 18.5-24.9) 11.5 – 16.0 kg (25 – 35 lb)
Berat badan rendah (BMI: <18.5) 12.5 – 18.0 kg (28 – 40 lb)
Berusia dibawah 19 tahun 12.5 – 18.0 kg (28 – 40 lb)
Kelebihan berat badan (BMI: 25-29.9) 7.0 – 11.5 kg (15 – 25 lb)
Obese (BMI: 30-39.9) 6.8 kg (setidaknya 15 lb)
Hamil bayi kembar 16.0 – 20.5 kg (35 – 45 lb)

 

Catatan: Skor BMI berdasarkan Obstetric Evidance Based Guidelines

 

Komposisi penambahan berat badan selama masa kehamilan hampir seluruhnya terjadi pada dua trimester  akhir. Trimester pertama kebanyakan wanita mengalami  kenaikan berat badan sebesar 1-2 kg (2.2–4.4 lb). Berat badan ini akan meningkat terus secara teratur sekitar 400 g (0.9 lb) per minggu sampai mencapai 10 lb pada minggu ke-20. Usia kehamilan 30 minggu berat badan wanita bisa mencapai 19 lb dan pada akhir kehamilan berat badannya mencapai 27 lb.

 

Dampak Kenaikan Berat Badan Selama Masa Kehamilan

Kenaikan berat badan selama kehamilan dapat mempengaruhi beberapa aspek kesehatan baik  ibu maupun janinnya. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi berat lahir bayi, bisa saja bayi mengalami berat badan lahir berlebih (> 4000 gram) atau berat badan lahir rendah (< 2500 gram).

Bayi dengan berat lahir rendah akan menghadapi masalah sehubungan dengan berat badannya yang kurang, seperti terganggu perkembangan dan kecerdasan bayi, kesehatan fisik yang juga kurang baik. Sebaliknya juga dengan bayi yang memiliki berat lahir berlebih dapat menyulitkan pada saat kehamilan dan terutama pada persalinan.

Ibu hamil dengan berat badan berlebih dapat menyebabkan perdarahan dan pre-eklampsia. Gejala muncul berasal dari hasil penghitungan BMI berkategori overweight/ kelebihan berat badan dan kemudian akan disusul dengan peningkatan tekanan darah, odema pada kaki, bermasalah pada ginjal, dan akhirnya dapat terjadi pre-eklampsia.

Kenaikan berat badan yang lebihan dan atau dalam durasi yang sangat cepat memicu munculnya pre-eklampsia atau diabetes. Odema yang terjadi juga dapat mengganggu pertumbuhan janin karena pengiriman O2 dan nutrisi kepada janin bisa berkurang sebab ditemukan penyempitan pembuluh darah.

Di akhir kehamilan terjadi resisten insulin meningkat dan masuk ke dalam tubuh janin bersama dengan makanan. Sebagian besar kenaikan berat badan selama kehamilan dapat meningkatkan fluksus asam amino ibu, glukosa, asam lemak bebas, dan trigliserida dari ibu ke janin yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.

 

Karena itu, pemantauan kenaikan berat badan wanita hamil salah satu cara menginterpretasikan kesehatan janin dalam kandungan. Kenaikan berat badan yang berlebihan selama kehamilan dapat membawa dampak negatif bagi pertumbuhan janin, demikian sebaliknya jika tidak terjadi peningkatan berat badan sesuai dengan rekomendasi. Untuk itu, pelaksanaan pemeriksaan selama kehamilan sangat penting bagi setiap wanita yang telah dinyatakan positif hamil.

Penulis : Reni Merta Kusuma (Mahasiswa Magister Kebidanan Universitas Padjadjaran Bandung

 


 

Baca juga:

  • Kaki Bengkak Selama Hamil, Apa Yang Harus Dilakukan?
  • Depkes Siapkan Rp 1, 2 Trillun untuk Jampersal

Belum ada komentar

Tinggalkan balasan