Childhood Application Permudah Kerja Bidan

Media Bidan – Berawal dari keprihatinan terhadap beban tugas bidan yang sangat berat, sekelompok mahasiswa dari Institut Teknologi Telkom dan Institut Teknologi Bandung berusaha memanfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk mengembangkan sebuah aplikasi solutif.

Rentang tugas seorang bidan yang amat luas, dari pemeriksaan ante natal, persalinan, sampai pemantauan perkembangan anak hingga di usia balita, menjadikan banyak hal yang harus dikelolanya. Sekelompok mahasiswa ini kemudian menamakan dirinya Gatotkaca. Tokoh ksatria pembela dan pelindung generasi penerus bangsa.

Solusi yang ditawarkan oleh tim Gatotkaca bertumpu pada pemantauan optimasi tumbuh kembang. Saat ini posyandu yang digawangi bidan dan kader posyandu telah menjalankan fungsinya dengan baik,tapi belum mendapatkan sentuhan teknologi yang terintegrasi. Data yang berhasil dikumpulkan di posyandu pun belum dapat dioptimalkam pemanfaatannya sebagai basis data kebijakan kesehatan nasional karena masih bersifat parsial atau terpisah-pisah.

Ditemukan pula di lapangan adanya kesulitan dari para kader posyandu dalam proses pencatatan tumbuh kembang anak sesuai dengan standar yang dipergunakan, dalam hal ini WHO. Kesulitan tersebut terjadi karena proses yang dilakukan bersifat manual dan konvensional.

Demikian pula pada saat bidan atau kader posyandu harus menerima konsultasi dari para orangtua terkait dengan tumbuh kembang anaknya yang meliputi persoalan gizi, sumber nutrisi yang tepat, penyakit dan vaksinasi, terkadang para bidan dan kader posyandu mengalami kesulitan, mengingat beratnya beban tugas lainnya.

Partisipasi orangtuapun terkadang masih kurang optimal dalam mengawal proses tumbuh kembang anaknya. Mengapa hal ini dapat terjadi?  Sesungguhnya dapat dimaklumi, mengingat tingkat pengetahuan orangtua yang amat beragam. Untuk itu salah satu solusi yang ditawarkan oleh tim Gatotkaca adalah menyediakan informasi yang valid dan sesuai standar kesehatan yang berlaku, dengan bantuan teknologi seluler.

Mengapa memilih teknologi seluler ? Bukankah bisa melalui web atau jejaring sosial?  “Memang benar,semua teknologi informasi dan telekomunikasi yang saat ini telah menjadi bagian dari layanan publik dapat dimanfaatkan. Akan tetapi telepon seluler atau ponsel adalah produk yang paling merakyat,bahkan menurut data terakhir jumlah penggunanya di Indonesia telah mendekati 200 juta orang,” ungkap Dr. Tauhid Nur Azhar Mkes, Msi, Med, pakar patobiologi dan imunologi.

Sebaran ponsel dan layanan jaringan operator yang sudah sedemikian merata ini adalah asset yang luar biasa dalam proses edukasi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Apakah harus menggunakan ponsel canggih atau smartphone?  “Jawabannya tidak. Mengapa?  Karena tim Gatotkaca merancang aplikasi seluler yang bersifat multiplatform, alias dapat diinstallkan dan dioperasikan di ponsel jenis apa saja,” jelasnya.

Dengan aplikasi yang ditanamkan pada ponsel ini diharapkan para orangtua, bidan dan kader posyandu akan lebih mudah memantau proses tumbuh kembang anak balitanya. Diharapkan pula terjadinya peningkatan pengetahuan karena aplikasi ini menyediakan panduan pembelajran berupa tips dan trik bagi penggunanya.

Secara teknikal aplikasi ini dibangun dengan piranti lunak Microsoft Visual Studio 2010,Microsoft SQL Server 2008,Windows Server 2008,Microsoft Silverlight,Microsoft Expression,Microsoft NET 4.0 SDK,Windows 7,Bing,ASP.net Ajax,Orchard,dan Windows Phone 7. Sifat utama aplikasi ini adalah user friendly dan amat mudah untuk digunakan oleh pengguna.

Harapan dari tim yang terdiri dari Tauhid Nur Azhar,Dody Qori Utama,Kania Audrint,Anggun Meca dan Arganka Yahya ini adalah aplikasi Childhood dapat membantu mengoptimalkan proses tumbuh kembang generasi penerus bangsa dalam rangka membangun Indonesia cemerlang di masa yang akan datang.

Rancangan aplikasi yang dinamakan Childhood berisi beberapa aplikasi terapan sebagai berikut: 1.Nutritional status

2.physical growth

3.Vaccine schedule

4.Nutritional calculator

5.Self Diagnostic Tools

6.Schleric conjungtiva test

7.diseases alert

8.Food alert

9.Ferning saliva test for dehydration

10.mood meter

11.body signal detector

12. Tips dan trik untuk bidan, kader posyandu dan orangtua.

Baca juga:

  • Tips Mendidik Anak Autis
  • Siapkan Generasi Berkualitas
  • IBI Jatim Dorong Peran Aktif IBI Cabang





4 comments so far

  1. aner
    #1

    brp harga undangan seminarnya? bs bl mulai kpn? mhn bls di email sy. mksh

  2. Han
    #2

    Memang menuntut kesabaran yang sangat ekstra untuk mendidik anak autis.

  3. bidan kuswati
    #3

    Trimakasih dengan dengan materi tersebut bidan akan tahu bahwa dari tahun “51″ bidan sudah berkarya.

  4. juwita ajiyanti
    #4

    assalamualaikum
    kalo mau jadi anggota ibi surabaya bagaimana caranya?terima kasih

Tinggalkan balasan