Membangun Daya Saing Dalam Pendidikan Bidan

Pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu ciri utama perkembangan global di abad 21. Siap atau tidak siap hal itu merupakan satu realitas yang harus dihadapi dengan kualitas sumber daya manusia dengan daya saing unggul. Oleh sebab itu, menghadapi berbagai perubahan di era globalisasi diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kualitas keberdayaan yang lebih efektif agar mampu mengatasi berbagai tantangan yang timbul.

Pada tatanan global seluruh umat manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu 1.) kecepatan (speed), 2.) kenyamanan (convinience), 3.) gelombang generasi (age wave), 4.) pilihan (choice), 5.) ragam gaya hidup (life style) 6.) kompetisi harga (discounting), 7.) pertambahan nilai (value added) 8.) pelayanan pelanggan (customer service), 9.) teknologi sebagai andalan (techno age), 10.) jaminan mutu (quality control).

Sepuluh tantangan global ini tidak hanya dihadapi oleh beberapa perguruan tinggi saja, melainkan dihadapi oleh seluruh perguruan tinggi, baik di skala regional, nasional bahkan internasional, tidak terkecuali dengan pendidikan kebidanan.

Pada kurun waktu 5- 10 tahun kedepan apabila pendidikan bidan tidak segera merespon dengan bijaksana dan memadai maka eksistensi pendidikan bidan akan hilang dimasyarakat, bahkan secara perlahan akan kehilangan peran. Tentunya kita berharap semua ramalan itu tidak akan terjadi pada pendidikan bidan saat ini.

Fakta menunjukkan bahwa problematika dari pendidikan bidan saat ini adalah mutu/ kualitas dari pendidikan bidan. Kondisi ini dibuktikan masih banyaknya pendidikan bidan yang memperoleh akreditasi B dan C  di Badan Akreditasi Nasional yang merupakan satu- satunya badan akreditasi perguruan tinggi di Indonesia.

Kita tidak boleh menutup mata bahwa persaingan lulusan dari pendidikan bidan nantinya semakin ketat yang disebabkan oleh kebijaksanaan pasar terbuka, yang menuntut lulusan kita mempunyai kompetensi yang sesuai dengan pihak stakeholder, memiliki sertifikasi nasional, dan profesonalisme. Kondisi ini tidak boleh mematahkan semangat kita para pendidik bidan, tetapi semakin memberikan  suplemen vitamin semangat kita untuk terus meningkatkan kualitas kita sebagai ujung tombak pencetak generasi bidan.

Sisi positif dari kebijaksanaan pasar terbuka ini adalah sebagai reminder kita bahwa lulusan bidan nantinya akan  mempunyai peluang besar untuk memasuki dunia internasional. Menaggapi hal ini , kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik bidan adalah kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan terhadap peluang- peluang yang ada serta kemampuan mengembangkan dan mengadopsi sistim dan metode pembelajaran yang baru termasuk pendidikan tentang soft skill. Sudah siapkah kita ???

Mempunyai daya saing adalah salah satu aspek untuk menjawab tantangan globalisasi perguruan tinggi. Namun menciptakan pendidikan yang mempunyai daya saing bukanlah pekerjaan yang relatif mudah.   Langkah ini membutuhkan sebuah proses dan beberapa tahapan.

Proses awal akan dimulai dari bagaimana sebuah program studi menentukan visi dan misi. Setiap perguruan tinggi membutuhkan arahan dan sasaran pengembangan, dengan visi dan  misi inilah sebuah perguruan tinggi dapat mengembangkan  jati dirinya dan mampunyai kekhasan dan keunggulan. Mejadi teaching university atau research university atau menjadi kedua- duanya.

Langkah kedua adalah menjalin kerjasama dengan kemitaran. Dalam hal ini kita harus proaktif melakukan benchmaking dan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui bidang akaemik ataupun non akademik dalam rangka mengali keunggulan dan meningkatkan efisiensi.

Langkah yang ketiga adalah peningkatkatkan akses yang berarti bahwa pendidikan bidan dapat sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Dalam hal ini kita para pendidik bidan membekali mahasiswa bidan dengan pendidikan yang berkelanjutan ( continuing education ) dan pendidikan sepanjang hayat ( long life education )

Langkah yang keempat adalah dengan menigkatkan kualitas proses pembelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh pendidikan bidan adalah mengembangkan konsep- konsep pembelajaran baru yang bersifat komprehensip dan kompetitif  dengan daya kratif yang tinggi. Membahas tentang proses pembelajaran kita tidak terlepas dari sebuah kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan yang bersifat holistik, kurikulum yang tidak hanya membekali mahasiswa dengan hard skill, melainkan dengan kemampuan soft skill dan succses skill.

Langkah yang kelima adalah penelitian dan layanan masyarakat. Sebuah pendidikan bisa dikatakan mempunyai daya saing yang tinggi apabila memiliki kemampuam mengembangkan penelitian dan mampu memberikan pelayanan pada masyarakat, dua hal ini tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan.

Langkah keenam adalah memperoleh akreditasi dan sertifikasi.  Dua hal ini tentu saja sudah tidak asing bagi setiap perguruan tinggi.  Selaian sebagai penjaminan mutu, juga sebagai pelindung kepentingan masyarakat dan konsekuensi dari akuntabilitas publik.

Langkah ketujuh adalah techer traning. Perubahan perkembangan ilmu dan teknologi pada saat ini sangat pesat, sehingga menuntut mahasiswa mempunyai kompetensi yang searah dengan perkembangan tersebut. Untuk memenuhi kemampuan tersebut, meningkatkan kemampuan seorang dosen menjadi prioritas pertama yang sekaligus menjadi fondasi yang kuat bagi mahasiswa. Salah satu cara dalam meningkatkan kemampuan dosen/ pendidik adalah mengubah paradigma model pembelajaran konvesional dengan metode pembelajaran yang baru. Pembelajaran konvesional yang mengarahkan pada satu arah pada transfer pengetahuan saja menjadi pembelajaran yang mempunyai empat pilar yaitu lerning to know, learning to be, learning to do dan learning to live together. Keempat pilar tersebut akan dikembangkan berama dengan kemampuan daya nalar dan daya analisis.

Langkah kedelapan adalah pendidikan yang tinggi seni. Pendidikan seni mempunyai peran dan fungsi dalam proses mengembangkan pandangan hidup, ketrampilan hidup, dan sikap hidup. Pendidikan seni akan menjadi filter bagi peradaban, yang artinya menjadi penyeimbang  rasionalistis dengan  kehalusan nilai- nilai kemanusian. Mendidik mahasiswa tidak hanya pintar, tetapi mempunyai kepribadian yang berbudaya.

Dan langkah terakhir adalah internasionalisasi dalam program akademik. Kita semua sepakat bahwa internasioanalisasi sebagai dampak era globalisasi, maka dari itu seyogyanya pendidikan bidan merespon dampak tersebut secara terbuka. Oleh karena hal tersebut,  pendidiknan bidan dituntut meningkatkan kualitas, reputasi dan kredibilitas dimata masyarakat nasional maupun internasional. Alternatif yang bisa dilakukan oleh pendidikan bidan adalah menjalin kerjasama dengan pendidikan bidan yang ada diluar negeri serta mengadopsi standart pembelajaran internasional tanpa meninggalkan kepentingan nasional.

Semua hal yang terpapar diatas tidak akan terjadi hanya dengan abracadabra. Butuh perenungan, analisa, kerjasama yang solid dan akhirnya membutuhkan realisasi.

Perhatikan setiap gejala- gejala, makna- makna, fakta- fakta, kejadian- kejadian, dan perubahan- perubahan agar kita sadar dengan kenyataan kehidupan kita, namun jika kita tidak memperhatikan perubahan – perubahan yang terjadi, maka  kita akan dilibas oleh perubahan tanpa ampun ( ilham )

 

Oleh : Elly Dwi Masita ( Staff Pendidik )

 

 

 

 

 

 

Baca juga:

  • Siti Hotijah Terpilih Ketua PC IBI Kab Bangkalan
  • November 2013 Uji Kompetensi D III Kebidanan
  • Stikes ICME Jombang Tambah Pendidikan Etika Dan Syaratkan Magang 2 Tahun





Belum ada komentar

Tinggalkan balasan