Sudahkah Lulusan D III Kebidanan Berkualitas ?

Saat ini pendidikan diploma bidan menjadi sekolah favorit bagi sebagian orang. Sehingga banyak orang tua menyarankan anaknya untuk memilih pendidikan diploma bidan sebagai alernatif istimewa, terutama bagi anak putrinya.

Selain masa studi yang pendek, 6 sampai 10 semester, namun yang lebih menarik perhatian bagi para orang tua dan lulusan sekolah menengah umum ataupun kejuruan adalah bahwa pendidikan bidan adalah salah satu pendidikan  yang mempunyai peluang kerja lebih besar dan mempunyai kekuatan komersial daripada profesi lain yang sederajat.

Animo besar masyarakat terhadap pendidikan bidan inilah yang menyebabkan banyak berdiri instansi pendidikan diploma kebidanan, ibarat jamur tumbuh di musim penghujan.  Seiring dengan bertambahnya jumlah instansi pendidikan bidan, perkembangan jenjang pendidikan bidan pun ikut melaju pesat. Dimulai dari berdirinya sekolah bidan,berkembang menjadi Pendidikan Program Bidan ( P2B), kemudian berkembang menjadi Diploma Kebidanan, selanjutnya ada D IV bidan pendidik , S1 kebidanan dan perkembangan jenjang yang paling puncak saat ini adalah S2 Kebidanan.

Namun sangat disayangkan kemajuan perkembangan jenjang pendidikan bidan ini tidak diikuti oleh bertambahnya kualitas dari bidan. Banyak penelitian yang menghasilkan bahwa bidan lulusan saat ini masih kurang mampu menjawab tantangan kebutuhan pelayanan kebidanan. Atau bisa dikatakan bahwa lulusan yang dihasilkan saat ini masih belum berkualitas.

Pernyataan diatas dipertegas lagi dengan data yang menyebutkan bahwa angka kematian bayi 28,2/ 1000 kelahiran, di tingkat nasional masih 34, dan Angka Kematian Ibu (AKI)  melahirkan 90,7 per 100 ribu tingkat nasional masih 228. Hal ini berarti  bahwa AKI melahirkan dan bayi jauh di bawah tingkat nasional. Pertanyaanya dimanakah para bidan ketika ibu melahirkan sedang membutuhkan kehadirannya ?

Pada dasarnya pendidikan bidan berdiri untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat, yang semakin hari semakin komplek dengan permasalahan kesehatan dan kehidupannya. Rendahnya  tingkat pendidikan dan angka kemiskinan yang terus melaju pesat menyebakan masyarakat semakin terpuruk dalam mencapai derajat kesehatan yang sesuai standar.

Kita semua sepakat bahwa pendidikan adalah hak setiap individu. Karena alasan itulah Kementrian Pendidikan membuka seluas-luasnya kesempatan untuk  mengenyam pendidikan.  Hal itulah yang berlaku pada  pendikan bidan saat ini, sehingga pantaslah organisasi kita sendiri terasa tabu untuk menolak alasan tersebut dan tak kuasa membendung pesatnya berdirinya sebuah instansi pendidikan diploma kebidanan.

Sayangnya, tidak semua orang mampu melihat alasan yang baik tersebut. Kemampuan untuk meneropong alasan tersebut ternyata lebih rendah bila dibandingkan dengan keinginan untuk  mencari keuntungan semata. Sadar atau tidak sadar bahwa saat ini pendidikan bidan lebih diwarnai dengan seluk beluk bisnis. Pertimbangan untuk mengasah sebuah kualitas lulusan kita menjadi prioritas yang berada di nomor kesekian. Mungkin bisa jadi, mendapat nomor sebagai akhir dari penomoran.

Masih banyak di kalangan pendidikan bidan yang kurang memperhatikan kualitas peserta didik. Hal itu bisa kita lihat dari pertama kali instansi tersebut melaksanakan sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru. Pada proses awal ini banyak yang melakukannya tanpa test, baik itu tes tulis sebagai cerminan tingkat akademisnya, atau test psikotest sebagai tolak ukur ketangguhan kepribadian atau test kesehatan sebagai cermin diri yang sehat.

Kalaupun ketiganya sudah dilaksanakan, pelaksanaanya pun masih banyak yang memberlakukan sistem persaudaraan, pertemanan atau yang lebih fatal lagi karena alasan jual beli. Alhasil kita tidak hanya menyaksikan KKN di siaran televisi saja, tetapi kita menyaksikan live di sekitar kita. Bahkan mungkin lebih jauh lagi, sudah menjadi teladan yang tidak baik bagi generasi kita. Bukankah kita berharap hal yang demikian mengalami pengurangan jumlahnnya??. Semoga menjadi bahan perenungan bagi kita semua. Semua pasti mempunyai harapan, bahwa proses awal yang demikian tidak berlanjut, ketika proses pendidikan tersebut sedang bergulir.

Beberapa instansi pendidikan bidan berlomba mendapatkan status akreditasi. Tentu saja perjuangan memperoleh status itu disertai beberapa alasan, diantaranya adalah karena ingin memberikan yang terbaik bagi mahasiswa dan ingin menjadikan lulusannya bisa diterima di lingkungan kerja.

Sekarang saja sudah banyak instansi pendidikan bidan yang sudah mendapat status terakreditasi, entah itu akreditasi A, B atau C. Tampaknya penilaian abjad tidak begitu banyak berpengaruh  dalam perjalanan proses pendidikan. Yang terjadi, akreditasi hanya tampak bagus di awal, tapi setelah status itu diperoleh perjalanan selanjutnya kembali pada masa sebelum akreditasi. Artinya akreditasi tidak lebih dari sebuah anekdot pengisian lembaran yang berisi kebohongan dan pengarangan. Hal yang sudah tersusun rapi pada lembaran akreditasi ( Baca : Borang ), mulai perlahan – lahan dilupakan.

Persoalan ini mungkin hanya masalah kecil pada sebagian instansi, tapi akan menjadi permasalahan yang besar bila tidak segera menyadarinya. Dan inilah salah satu penyebab lulusan kita masih belum berkualitas.  Ternyata status akreditasi pun belum menjamin kualitas lulusan kita.

Namun, setiap permasalahan menyimpan sebuah  solusi. Solusi yang ditawarkan oleh profesi kita ini sungguh terbilang sebuah solusi tepat guna.  Adanya uji kompetensi pada pengurusan SIB dan SIPB  adalah langkah yang solutif. Langkah ini sebagai upaya untuk mempertahankan kualitas kompetensi kita. Walaupun sebagian dari kita banyak yang mengeluh tentang uji kompetensi ini. Solusi lain adalah mungkin mempererat kerjasama lagi antara profesi dengan instansi pendidikan, baik yang berada di struktural maupun yang berada pada fungsional.

Kerjasama ini adalah kembali menyamakan persepsi, bahwa masyarakat  sebagai stakeholder kita tidak hanya membutuhkan jumlah yang banyak, tetapi juga kualitas yang maksimal. Sehingga citra bidan di kalangan profesi lain tidak  hanya sebagai pengumpul pundi – pundi Rupiah, tetapi sebagai pembangun perempuan di mayapada.

Penulis : Elly DM  (Staff Pendidik dan Bidan Praktek Swasta di Surabaya)

Baca juga:

  • Tanpa Peran Bidan Dalam BPJS, Program KB Akan Lumpuh
  • November 2013 Uji Kompetensi D III Kebidanan
  • Uji Kompetensi Bidan Wajib Bagi Semua Bidan





7 comments so far

  1. diyah
    #1

    Saya juga prihatin sekali dgn praktik kkn di beberapa rumah sakit,
    Yg mengambil lulusan bidan berdasarkan titipan ato masih hubungan sedarah tanpa melihat kualitas kerja bidan tersebut….

  2. ani
    #2

    assalamualaikum,,
    bu Elly, salam kenal dari saya mahasiswa DIII kebidanan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat. benar sekali dengan pernyataan diatas, saya sangat merasakannya bagaimana kondisi institusi kebidanan sekarang, sbagian besar institusi kebidanan lebih mementingkan kuantitas dari pada kualitas. itu mungkin sedikit pandangan yg saya alami sendiri sbg mahasiswa.
    mohon maaf bu, saya baru saja mendapat issue mengenai akan ditutupnya program DIII Kebidanan, apakah itu benar ataukah hanya sekedar issue atau sebuah solusi dari masalah yang dihadapi sekarang, kemudian bagaimana tanggapan IBI yg mungkin bisa mengungkapkan bagaimana untuk tetap membentuk generasi penerus Bidan yg profesional. terimakash, mhon kejelasannya
    wassalamualaikum wr.wb

  3. lyla
    #3

    kkn dan perbisnisan itu tdak hnya dirasakan saat baru mau menjadi maba tpi saat mencari kerjapun demikian, kadang merasa hanya dituntut utk pengabdian tpi tak pernah melihat kesejahteraannya toh skrg serba perhitungan,,, gmna nasib bidan selanjutnya yang lulusan semakin banyak tpi lapangan kerja hanya untuk kalangan sendiri tanpa memperdulikan kualitas,,:(

  4. irmayanti
    #4

    saya mahasiswa jurusan bahasa dan sastra indonesia angkatan 2012, sangat tertarik denga dunia kesehatan. saya ingin melanjutkan studi saya pada jurusan kebidanan tapi saya butuh info lengkap tentang hal ini sebelum saya memutuska untuk berhenti dari jurusan saya saat ini dan beralih pada jurusan kesehatan…, saya berharap dapat menjadi orang bermanfaat.
    Sebab Seorang bidan tidak hanya sekedar bisa menjadi bidan mlainkan jg bisa menjadi pengajar sedang seorang guru belum tentu bisa berkecimpung di dunia ksehatan hal itu menjadi alasan saya saat ini untuk beralih pada dunia kesehatan dalm hal ini jurusan kebidanan selain memang minat saya sejak kecil…mohon bantuannya untuk memperkuat alasan sy hrus pidah pd jurusan kebidanan

  5. aprillia anggraini
    #5

    saya mahasiswi kebidanan D3, saya masih ragu kepada pendidikan yang saya jalani saat ini, karena yang dipruntunkan saat ini hanyalah lulusan D4/S1 bahkan S2. yang saya pertanyakan saat ini apakah mahasiswi seperti saya yg mengikuti studi D3 kurang peluang kerjanya pada saat saya lulus nanti dan apakah akreditasi kampus yang di miliki berpengaruh kepada jenjang pekerjaan terutama pegawai negeri ?

  6. made padma
    #6

    saya pernah mengalami kecewa yg sangat, saya sudah magang lama di rumah sakit besar di kota Malang, waktu ada perekrutan saya bertahan sampai skill test saja, dikalahkan sama yg “bawaan” atau yang berani bayar, lebih parahnya anak ajaib ini cuma bondo ijazah, tanpa sertifikat yg harus wajib dimiliki. dan sekarang ternyata banyak komplain dari rekan kerja, arek anyare plonga plongo tok. lah, perlu dipertanyakan kualitas SDM nya..

  7. Bebby Lestari
    #7

    Assalammualaikum
    Bu mau tanya menurut ibu jenjang/karir ke depannya untuk 3-4tahun ke depan antara perawat dan bidan lebih besar mana bu?saya mau kuliah jadi bingung,tapi dari dl saya ttp mantap di kebidanan.
    Terima kasih :)

Tinggalkan balasan